Tiga prajurit Indonesia gugur di Lebanon, saatnya evakuasi pasukan?
Tiga Penjaga Perdamaian Indonesia Gugur dalam Insiden Beruntun di Lebanon Selatan
Jendela Magazine.CO.ID, BEIRUT – Dalam insiden beruntun yang terjadi hanya beberapa jam, tiga penjaga perdamaian dari Indonesia gugur di Lebanon selatan. Ketiganya merupakan anggota pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) yang bertugas menjaga stabilitas wilayah tersebut.
PBB mengungkapkan bahwa ledakan tak diketahui sumbernya menghancurkan sebuah kendaraan di dekat kota Bani Haiyyan, menewaskan dua penjaga perdamaian Indonesia. Dua lainnya terluka, salah satunya dalam kondisi serius. Insiden ini terjadi setelah sebelumnya, satu penjaga perdamaian lainnya gugur akibat serangan proyektil yang menyerang pangkalan UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr.
Ketiga korban jiwa berasal dari tentara Indonesia. Dalam serangan pertama, Praka Farizal Rhomadhon menjadi korban. Sementara itu, dalam serangan kedua, dua prajurit TNI Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) XXIII-S/Unifil gugur. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa kedua korban adalah Mayor Inf ZA dan Sertu I. Keduanya sedang berusaha mengevakuasi rekan TNI yang terluka ketika konvoi mereka diserang oleh militer Israel.
UNIFIL saat ini sedang melakukan penyelidikan atas kedua kejadian tersebut, meskipun belum ada pihak yang mengklaim tanggung jawab atas kematian para penjaga perdamaian. PBB menegaskan bahwa setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701 tahun 2006.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menulis di X bahwa kejadian ini membahayakan keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian. Ia menyerukan akuntabilitas atas serangan-serangan ini.
Respons Pemerintah Indonesia
Menanggapi kematian pertama, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi bahwa penjaga perdamaian tersebut adalah warga negara Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa kehilangan apapun terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima. Ia juga menyampaikan kecaman terhadap “serangan Israel di Lebanon selatan.”
Saat ini, lebih dari 8.200 pasukan penjaga perdamaian PBB – atau dikenal sebagai Helm Biru – dari 47 negara ditempatkan di Lebanon selatan, menurut data UNIFIL yang diperbarui pada 23 Maret.
Kritik terhadap Efektivitas Misi Perdamaian
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, mengkritik efektivitas misi perdamaian di tengah pertempuran yang terus berlanjut. Ia menilai bahwa posisi pasukan TNI saat ini mungkin tidak lagi sebagai penjaga perdamaian, tetapi justru terjebak dalam pusaran konflik.
“Ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi ataupun juga melihat apakah keberadaan prajurit kita ini benar-benar berfungsi atau tidak karena jelas dengan adanya serangan yang tidak berhenti, yang terus berlanjut, bahkan sampai menewaskan prajurit kita,” ujar Dave.
Ia mempertanyakan apakah keberadaan prajurit Indonesia di Lebanon masih berguna untuk menjaga perdamaian atau justru menjadi target serangan.
Pertimbangan Penarikan Personel
Melihat kondisi keamanan yang semakin memburuk, Dave menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan opsi penarikan personel. Ia merujuk pada langkah negara lain yang memiliki kekhawatiran serupa.
“Nah, maka itu bilamana kondisinya ini memang tidak bisa dinyatakan aman, ada baiknya untuk pemerintah melakukan apa namanya penarikan ataupun juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon,” kata Dave.
Ia juga menyebut bahwa Italia, salah satu negara Eropa Barat, siap menarik personilnya dari Lebanon. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan harus didasarkan pada pertimbangan dan komunikasi yang matang.
Fungsi Pasukan TNI di Lebanon
Menurut Dave, misi utama TNI dalam UNIFIL adalah menjaga perdamaian. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah berubah menjadi zona perang aktif yang menyulitkan pelaksanaan misi.
“TNI ini kan fungsi kita ini adalah untuk menjaga perdamaian. Nah, jelas di sana ini tidak terjadi perdamaian, justru terjadi pertempuran. Nah, jadi ya kalau begitu ya fungsi kita ini tidak, tidak bisa melaksanakan misi kita. Nah, bahkan sudah ada korbannya,” jelasnya.
Dave menegaskan pentingnya investigasi mendalam untuk memastikan penyebab jatuhnya korban jiwa dari pihak Indonesia. “Harus ada investigasi mendalam karena ini kan berkaitan dengan keadilan kepada keluarga prajurit ya. Ini serangannya itu dari mana, siapa yang menyerang, titiknya itu mau nyerang ke mana hingga akhirnya ada korban kita,” katanya mengakhiri.
