Kekhawatiran Perang Dunia III Meningkat, Angkatan Laut Kerajaan Tangkal Kapal Rusia di Selat Inggris

Operasi Royal Navy di Selat Inggris

Royal Navy atau Angkatan Laut Kerajaan Inggris melakukan operasi pencegatan terhadap sejumlah kapal Rusia yang melintas di Selat Inggris. Operasi ini dilakukan dalam rangka memantau pergerakan armada bayangan Rusia dan mengamankan wilayah maritim Inggris. Kapal perang HMS Mersey dan HMS Severn serta helikopter Wildcat dari Skuadron Udara Angkatan Laut 815 dikerahkan untuk mengawasi korvet Rusia Boikiy serta kapal tanker minyak MT General Skobelev yang menyertainya saat berlayar menuju Laut Utara.

Operasi dua hari ini dilakukan secara terkoordinasi dengan sekutu NATO, menurut rilis resmi dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris. HMS Mersey pertama kali mencegat kapal-kapal Rusia saat memasuki Selat Inggris, mengambil alih tugas pengawasan dari sekutu NATO yang sebelumnya memantau pergerakan mereka di Teluk Biscay. Di dekat Isle of Wight, HMS Severn dan HMS Mersey bekerja sama dengan helikopter Wildcat untuk memantau kelompok kapal tersebut secara ketat, menggunakan sensor canggih guna mengumpulkan informasi dan melaporkan pergerakan mereka.

HMS Severn kemudian melanjutkan pengawasan saat kapal-kapal Rusia berlayar ke Laut Utara, sebelum menyerahkan tanggung jawab pemantauan kepada sekutu NATO ketika mereka melanjutkan perjalanan ke utara. Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns MP, menyampaikan bahwa operasi ini merupakan pesan kepada Putin bahwa Angkatan Laut Inggris siap melacak, mencegat, dan mempertahankan wilayah negara.

Letnan Komandan Dan Wardle, Komandan HMS Mersey, menjelaskan bahwa operasi ini memberi kesempatan bagi awak kapal untuk menunjukkan kesiapan dan kemampuan mereka dalam menjaga kepentingan maritim Inggris Raya. Beroperasi dalam koordinasi erat dengan kapal saudara HMS Severn serta sekutu NATO lainnya memungkinkan mereka berbagi pengalaman dan praktik terbaik, yang semakin menegaskan kekuatan hubungan antarnegara.

Letnan Komandan Ross Gallagher, Pengamat Senior sekaligus Perwira Eksekutif 815 NAS, menambahkan bahwa pengaktifan ini kembali menunjukkan kesiapan dan profesionalisme tinggi yang menjadi ciri khas Skuadron Udara Angkatan Laut 815. Ia sangat bangga dengan para insinyur yang menjaga pesawat tetap berkinerja optimal, serta awak pesawat yang memberikan pengawasan akurat, pelaporan cepat, dan kejelasan taktis.

Skuadron 815 dibangun untuk tingkat responsivitas ini, sangat terlatih, terkoordinasi ketat, dan selalu siap memberikan dukungan penerbangan demi melindungi kepentingan negara sekaligus mendukung mitra NATO.

Kapal-kapal Rusia tersebut kemudian kembali dari penempatan di kawasan Mediterania dan diawasi ketat sepanjang perjalanan oleh kapal perang NATO. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan bahwa melacak dan mengganggu armada bayangan Rusia adalah prioritas pemerintah, dengan tujuan untuk memblokir dana yang mendukung invasi Rusia ke Ukraina.

Pengaktifan Royal Navy ini terjadi hanya dua minggu setelah HMS Mersey dan helikopter Wildcat dari 815 NAS mencegat kapal perusak kelas Udaloy Rusia Severomorsk serta kapal dagang Sparta IV dan MYS Zhelaniya di Laut Utara. Angkatan Laut Kerajaan memantau kapal-kapal tersebut saat melintasi Selat Dover dan Selat Inggris sebelum menyerahkan tugas pengawasan kepada sekutu NATO di dekat Pulau Ushant, lepas pantai Prancis, ketika Rusia melanjutkan pelayaran ke selatan.

Kekhawatiran Perang Dunia III: Para Pemimpin Eropa Dilaporkan Membentuk ‘Dewan Perang’ untuk Merencanakan Kemenangan

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mengklaim para pemimpin Eropa diam-diam membentuk “dewan perang” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi Perang Dunia III. Klaim tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik global. Orban mengatakan Uni Eropa tidak lagi berfokus pada diplomasi, melainkan mulai beralih ke persiapan konfrontasi militer berskala besar.

Berbicara dalam demonstrasi anti-perang pada Sabtu (17/1/2026), ia memperingatkan bahwa blok tersebut secara bertahap bergerak menuju konflik langsung dengan Rusia. Pernyataan Orban muncul di tengah meningkatnya gesekan geopolitik. Di timur, perang berkepanjangan di Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sementara di barat, Presiden AS Donald Trump mengguncang aliansi NATO dengan dorongan agresifnya untuk mencaplok Greenland.

Di tengah latar belakang gejolak global tersebut, Orban menilai elit Eropa telah menentukan pilihan, yakni mempersiapkan konfrontasi langsung dan dahsyat dengan Rusia. Perdana Menteri berusia 62 tahun itu, yang kerap dianggap sebagai tokoh berbeda di Uni Eropa, menggambarkan suasana di balik pintu tertutup Brussels. Ia menyebut pertemuan 27 kepala negara bukan lagi forum debat kebijakan, melainkan sesi perencanaan militer berisiko tinggi.

“Saya duduk di antara mereka, dan saya katakan dengan tegas bahwa mereka akan berperang,” kata Orban. Menurutnya, para pemimpin dari negara-negara besar Eropa, terutama Prancis dan Jerman, tak lagi membahas perdamaian. Sebaliknya, mereka disebut terobsesi pada strategi untuk mengalahkan Rusia sepenuhnya.

Diskusi tersebut, menurut Orban, berfokus pada upaya memaksa Rusia membayar ganti rugi serta merebut kembali miliaran dolar yang saat ini dialokasikan untuk membantu Ukraina. Bagi Hungaria, sikap yang diambil adalah menjaga jarak. Orban bersumpah pemerintahannya akan menutup pintu rapat-rapat, menolak mengirim tentara maupun dana ke garis depan.

Ia menilai logika tersebut penting, baik dari sisi ekonomi maupun pasifisme. “Jika Anda tidak punya uang, Anda tidak punya rencana besar,” katanya, sambil berpendapat bahwa biaya keterlibatan dalam konflik dapat menghancurkan masa depan Hungaria.

Meski pernyataannya memicu kekhawatiran di sebagian kalangan, para kritikus dan pengamat independen menyoroti waktu munculnya klaim “Perang Dunia 3” ini. Dengan pemilihan parlemen Hungaria yang dijadwalkan pada 12 April 2026, retorika tersebut dinilai sebagai upaya menakut-nakuti publik domestik. Orban menghadapi tantangan terberatnya dalam 16 tahun terakhir dari partai TISZA yang tengah naik daun, dipimpin Peter Magyar.

Narasi “perang atau damai” pun dinilai menjadi pilar kampanye yang kuat, meski memecah belah. Para pejabat Uni Eropa dengan cepat menolak label “dewan perang” menyebutnya rekayasa. Mereka menegaskan bahwa pertemuan yang dimaksud sepenuhnya berfokus pada keamanan defensif dan dukungan kemanusiaan, yang justru bertujuan mencegah perang global. Menurut mereka, penggambaran Uni Eropa sebagai entitas yang gemar berperang hanya menguntungkan narasi Rusia dan memperkuat basis pendukung Orban di dalam negeri.