Serangan Cepat dan Bersih: Trump Kirim Delta Force ke Iran? Kesalahan Mengerikan!
Serangan Cepat dan Bersih, Delta Force AS Siap Dikerahkan ke Iran?
Beberapa analis militer mengatakan bahwa kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran tidak akan berupa perang skala penuh, meskipun peluangnya sangat besar. Prediksi ini muncul setelah Presiden Donald Trump memberikan ancaman terhadap Iran, yang dianggap sebagai tindakan balasan terhadap tindakan represif terhadap demonstran.
Model serangan yang diprediksi adalah operasi khusus, mirip dengan apa yang dilakukan oleh unit elite militer AS saat menangkap Presiden Nicolas Maduro di Venezuela. Salah satu indikasi dari prediksi ini berasal dari pernyataan Kepala Komando Pusat AS, Brad Cooper, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa jika terjadi serangan, maka akan “singkat, cepat, dan bersih”.
Pentagon menyatakan bahwa target di Teheran adalah mereka yang diduga terlibat dalam tindakan represif terhadap para demonstran. Diduga, sejumlah petinggi militer dalam Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) hingga petinggi pemerintahan, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khameini, menjadi sasaran utama jika operasi senyap ini dilakukan.
Dalam kerangka ini, model serangan akan disandarkan pada unit pasukan khusus AS yang dikenal sebagai Delta Force. Sebagai Panglima Tertinggi, Presiden AS memiliki wewenang untuk mengerahkan unit Tier 1 ini untuk misi-misi berisiko tinggi.
Apa Itu Delta Force?
Secara resmi dikenal sebagai Detasemen Operasional Pasukan Khusus ke-1-Delta, ini adalah unit Tier 1 utama Angkatan Darat AS. Mereka beroperasi di luar jalur militer konvensional, sering kali ditugaskan dengan misi paling kompleks dan rahasia yang tidak dapat dilakukan oleh pasukan reguler.
Operasi Cakar Elang, Pernah Gagal Total di Iran
Delta Force memiliki hubungan historis yang mendalam dengan Iran. Hubungan ini dimulai dari upaya penyelamatan sandera yang gagal pada tahun 1980, yaitu Operasi Eagle Claw. Dalam operasi ini, sejumlah penerbang dan marinir AS tewas akibat insiden tabrakan helikopter dan pesawat C-130 yang dilibatkan dalam misi evakuasi tersebut.
Badai gurun yang tidak terprediksi menjadi salah satu penyebab utama kegagalan total operasi ini. Kegagalan misi ini menjadi latar belakang terciptanya Komando Operasi Khusus Gabungan (Joint Special Operations Command/JSOC) modern untuk memastikan keberhasilan di masa depan di wilayah serupa.
Fokus Kontra-Terorisme
Unit ini berspesialisasi dalam penyelamatan sandera dan kontra-terorisme, sehingga ideal untuk serangan presisi. Jika intelijen AS mengidentifikasi target bernilai tinggi atau ancaman spesifik di Iran, Delta Force adalah pilihan utama untuk operasi presisi daripada invasi skala besar.
Kecepatan dan Kehati-hatian
Tidak seperti infanteri biasa, Delta Force dapat dikerahkan secara global dengan pemberitahuan minimal dan kerahasiaan total. Mereka dilatih untuk menyusup ke wilayah udara dan perbatasan musuh tanpa terdeteksi, menjalankan misi mereka, dan mundur sebelum musuh dapat secara efektif memobilisasi respons dan pembalasan.
Proses Seleksi
Para prajurit biasanya berasal dari Ranger atau Green Beret dan harus melewati kursus seleksi yang melelahkan. Tingkat kegagalan sangat tinggi, seringkali lebih dari 90 persen, memastikan kalau hanya personel yang paling tangguh secara fisik dan mental yang berhasil masuk ke tim.
Operasi Rahasia
Operasi yang dilakukan oleh unit ini sering kali bersifat rahasia dan tidak diakui oleh Pentagon. Hal ini memungkinkan Presiden untuk mengesahkan misi yang membutuhkan ‘penyangkalan yang masuk akal’, faktor penting ketika berurusan dengan situasi geopolitik yang sensitif seperti di Timur Tengah.
Persenjataan Canggih
Personel Delta Force memiliki akses ke persenjataan dan peralatan yang sangat khusus yang tidak tersedia untuk pasukan reguler. Mereka dapat menyesuaikan perlengkapan mereka secara ekstensif agar sesuai dengan lingkungan spesifik suatu misi, baik itu pusat kota atau medan gurun.
Pengumpulan Intelijen
Selain aksi langsung, operator Delta Force adalah ahli dalam pengintaian khusus. Mereka dapat beroperasi jauh di belakang garis musuh untuk mengumpulkan intelijen penting tentang situs militer atau fasilitas nuklir, memberikan data akurat kepada Presiden untuk pengambilan keputusan.
Presiden Bisa Bertindak Cepat
Meskipun Presiden dapat bertindak cepat, Resolusi Kekuatan Perang mensyaratkan pemberitahuan kepada Kongres dalam waktu 48 jam setelah terjadinya permusuhan tersebut. Undang-undang ini bertujuan untuk membatasi kekuasaan presiden, memastikan bahwa konflik jangka panjang tidak dimulai tanpa persetujuan legislatif, bahkan jika serangan awal bersifat sepihak.
