Latihan Militer Israel yang Paling Besar untuk Hadapi Serangan Rudal Iran

Latihan Militer Israel yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya

Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel baru-baru ini melaksanakan latihan militer yang dianggap sebagai yang terbesar dan paling kompleks dalam sejarah negara tersebut. Latihan ini dilakukan dengan skenario menghadapi serangan rudal kluster besar yang ditembakkan dari Iran, yang berpotensi menyebabkan kerusakan luas.

Menurut laporan dari surat kabar Yediot Aharonot, latihan ini dirancang untuk meningkatkan kesiapan pasukan dalam menghadapi situasi darurat seperti kebakaran besar dan serangan siber yang bisa mengganggu identifikasi lokasi korban. Selama latihan, para pemimpin militer Israel juga merehabilitasi pangkalan Zikim di utara Jalur Gaza dalam beberapa pekan terakhir untuk memastikan kesiapan operasional.

Sebuah batalion penyelamat dan bantuan dari pasukan cadangan Galilea Barat turut serta dalam latihan ini. Mereka berlatih menyelamatkan orang-orang yang terjebak di lokasi kehancuran skala besar yang dibangun di sebelah pangkalan tersebut. Latihan ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan respons cepat dalam menghadapi ancaman serius.

Skenario Serangan Rudal Kluster Iran

Latihan ini juga mencakup simulasi serangan rudal kluster yang pernah terjadi pada Juni 2025, ketika Iran menembakkan rudal-rudal tersebut ke wilayah Rehovot dan Ramat Gan, menyebabkan kerusakan yang luas. Rudal kluster Iran memiliki karakteristik unik: mereka terbuka puluhan meter di atas target dan menyebarkan proyektil kecil dalam lingkaran yang membentang beberapa kilometer. Selain itu, rudal tersebut juga dilengkapi hulu ledak utama.

Selama latihan, para tentara diminta untuk mencari peluru yang belum meledak di sekitar lokasi penghancuran. Peluru-peluru ini diklasifikasikan sebagai amunisi yang belum meledak dan sangat berbahaya. Komandan sektor Galilea Barat, Kolonel Shay Shemesh, menjelaskan bahwa pasukan berlatih dengan skenario insiden yang menimbulkan banyak korban di dalam reruntuhan, serta menerapkan pelajaran dari perang sebelumnya dengan Iran.

Ancaman Konfrontasi Militer dengan Iran

Surat kabar Yedioth Ahronoth juga menyebutkan bahwa tentara Israel memperkirakan Iran akan menggunakan jenis rudal ini lagi dalam putaran berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman dari Iran tetap menjadi fokus utama bagi militer Israel.

Di sisi lain, sebuah laporan dari komandan senior Angkatan Udara Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa Teheran siap merespons setiap penargetan dari Amerika Serikat. Laporan ini disampaikan kepada Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran.

Anggota parlemen Ebrahim Rezaei, juru bicara komite tersebut, mengutip laporan tersebut yang menyatakan bahwa Iran memiliki keunggulan intelijen untuk memantau pergerakan musuh. Ia juga menyatakan bahwa semua langkah telah diambil untuk menghadapi skenario konfrontasi militer apa pun.

Persiapan Militer dan Ancaman Regional

Laporan tersebut juga merujuk pada hasil operasi “True Promise 3” selama 12 hari, di mana Iran mengklaim berhasil menembus sistem pertahanan rudal gabungan musuh lebih dari 50 persen. Rezaei menegaskan bahwa dalam situasi perang, menargetkan kepentingan musuh akan menghancurkan sekitar setengah dari kemampuan mereka pada fase pertama konfrontasi.

Kondisi ini menjadi salah satu isu utama dalam sesi komite yang membahas perkembangan situasi regional, pengerahan pasukan militer, dan kondisi keamanan di sekitar Iran. Peningkatan ancaman militer dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa potensi konfrontasi langsung semakin tinggi.

Amerika Serikat telah memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengirimkan kelompok serang angkatan laut yang dipimpin oleh kapal induk “Abraham Lincoln”. Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan konfrontasi langsung dengan Iran, yang telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal, dan sekutu AS, khususnya Israel, jika diserang.