Rafah Dibuka, Hanya 27 Warga Gaza Izinkan Melintas
Pembukaan Kembali Penyeberangan Rafah di Gaza
Pada hari pertama pembukaan kembali penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir, sebanyak 27 warga Palestina berhasil melintasi perbatasan tersebut. Jumlah ini jauh lebih rendah dari yang diharapkan oleh Israel dan Mesir, yang sebelumnya menyatakan bahwa hingga 150 orang akan meninggalkan wilayah Gaza pada hari Senin, sementara 50 orang akan masuk.
Penyeberangan tersebut ditutup selama lebih dari 20 bulan setelah pasukan Israel mengambil alih kontrol atas area tersebut. Hanya sesekali dibuka selama gencatan senjata pada awal tahun 2025 untuk keperluan evakuasi medis. Namun, pada malam hari, hanya 12 warga Palestina yang diperbolehkan kembali ke Gaza, menurut laporan dari sumber-sumber Palestina dan Mesir. Sementara itu, 38 orang lainnya masih menunggu pemeriksaan keamanan di sisi Mesir.
Tantangan dalam Proses Pemeriksaan Keamanan
Para pejabat Palestina menyalahkan keterlambatan dalam proses pemeriksaan keamanan oleh Israel. Menurut laporan, ambulans harus menunggu berjam-jam di perbatasan sebelum akhirnya bisa membawa pasien ke Mesir setelah matahari terbenam. Proses ini memicu kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis darurat.
Dalam hal keluar, Israel hanya memberi izin kepada lima pasien yang dikawal oleh dua kerabat masing-masing. Hal ini membuat total jumlah warga Palestina yang masuk dan keluar menjadi 27 orang. Militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait situasi ini.
Kondisi Kesehatan yang Memprihatinkan
Sejumlah besar penduduk Gaza membutuhkan bantuan medis. Menurut pejabat kesehatan Gaza, sekitar 20.000 anak-anak dan orang dewasa membutuhkan perawatan medis yang tidak tersedia di wilayah tersebut. Ribuan warga Palestina lainnya juga ingin kembali ke rumah mereka setelah bertahun-tahun tinggal di luar wilayah Gaza.
Penyeberangan Rafah telah menjadi jalur penting bagi warga Palestina untuk mendapatkan akses ke layanan kesehatan, perdagangan, dan perjalanan. Ketika Israel mengambil alih penyeberangan tersebut, mereka menyatakan bahwa tindakan ini dilakukan untuk mencegah penyelundupan senjata oleh Hamas. Namun, tindakan ini justru mengisolasi wilayah Gaza dan memutus akses warga terhadap layanan kesehatan.
Evakuasi Medis yang Terbatas
Israel menjelaskan bahwa semua pergerakan melalui penyeberangan akan tunduk pada pemeriksaan keamanan gabungan antara Israel dan Mesir. Untuk saat ini, hanya sejumlah kecil dari puluhan ribu warga Palestina yang terluka dan sakit di Gaza yang akan diizinkan keluar setiap hari.
Ribuan warga sipil telah mendaftar ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk evakuasi medis. Menurut Médecins Sans Frontières, lebih dari satu dari lima orang yang mendaftar adalah anak-anak. Di antara mereka, ada lebih dari 11.000 pasien kanker. Serangan udara Israel terhadap rumah sakit telah merusak sistem layanan kesehatan Gaza secara signifikan.
Pada Maret 2025, Israel menghancurkan satu-satunya rumah sakit khusus pengobatan kanker di Gaza, yang merupakan satu-satunya penyedia layanan onkologi di wilayah tersebut. Sejak saat itu, para dokter terpaksa bekerja di klinik darurat tanpa peralatan yang memadai untuk diagnosis.
Kesempatan untuk Keluarga yang Terpisah
Pembukaan kembali penyeberangan Rafah secara terbatas juga memberikan kesempatan langka bagi keluarga-keluarga yang terpecah akibat konflik selama lebih dari dua tahun untuk bersatu kembali. Banyak keluarga yang mengungsi ke Kairo pada awal perang tidak menyangka akan bertahan begitu lama.
Pada bulan-bulan awal perang sebelum penyeberangan ditutup, sekitar 100.000 warga Palestina keluar ke Mesir melalui Rafah. Salah satu warga, Mohammad Talal, mengatakan bahwa ia sangat rindu kampung halamannya dan ingin kembali ke rumahnya meski dalam kondisi yang rusak.
Perubahan Politik dan Harapan Baru
Israel menutup penyeberangan Rafah sebagai alat tawar-menawar, dengan menghubungkan pembukaan kembali dengan kembalinya semua sandera yang disandera selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Namun, posisi ini berubah minggu lalu ketika militer Israel mengumumkan telah menemukan sisa-sisa tawanan terakhir, Ran Gvili, yang tewas dalam serangan awal.
Pembukaan kembali penyeberangan ini dipandang sebagai langkah penting seiring memasuki fase kedua perjanjian gencatan senjata yang ditengahi AS. Fase pertama mencakup pertukaran seluruh sandera yang ditahan di Gaza dengan ratusan warga Palestina yang ditahan oleh Israel, serta peningkatan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.
