Gencatan Senjata Diabaikan, Israel Serang Gaza, 23 Tewas
Serangan Militer Israel Kembali Menewaskan Banyak Warga Palestina di Jalur Gaza
Serangan militer Israel kembali menewaskan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026). Peristiwa ini menjadi salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu. Eskalasi terbaru ini kembali mempertanyakan efektivitas kesepakatan guncatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, sementara krisis kemanusiaan terus memburuk.
Menurut laporan dari Al Jazeera, sebanyak 23 warga Palestina tewas akibat tembakan artileri dan serangan udara Israel yang menghantam wilayah Gaza utara dan selatan. Otoritas kesehatan setempat menyebutkan korban termasuk anak-anak, perempuan, serta petugas medis yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Di Gaza City, serangan artileri Israel menghantam kawasan permukiman Tuffah dan Zeitoun, menewaskan sedikitnya 14 orang. Sementara itu, di wilayah selatan Gaza, serangan udara menghantam tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, Qizan Abu Rashwan, dan kawasan pesisir Al-Mawasi, yang menampung ribuan warga sipil yang mengungsi akibat konflik berkepanjangan.
Salah satu korban tewas adalah Hussein Hasan Hussein al-Sumairy, seorang petugas medis Bulan Sabit Merah Palestina, yang dilaporkan gugur setelah menjadi sasaran serangan saat memberikan pertolongan kepada korban luka. Juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina, Raed Al-Nims, mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. “Serangan ini merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional yang melindungi paramedis dan tenaga kesehatan,” ujar Al Nims. Ia menambahkan bahwa sejak Oktober 2023, setidaknya 57 petugas medis Palestina telah tewas, dengan sebagian besar korban gugur saat menjalankan tugas evakuasi dan pertolongan di lapangan.
Dari lapangan, koresponden Al Jazeera di Khan Younis, Tareq Abu Azzoum, melaporkan bahwa serangan terjadi tanpa peringatan dan menyasar rumah-rumah penduduk sipil, meskipun gencatan senjata secara formal masih berlaku. “Dalam beberapa jam terakhir, terjadi lonjakan aktivitas militer Israel di seluruh wilayah Gaza,” jelas Azzoum. Menurut keterangannya, suara drone Israel terus terdengar di udara, menciptakan ketakutan di kalangan warga sipil yang merasa tidak memiliki ruang aman, bahkan selama masa gencatan senjata. Ia juga melaporkan bahwa militer Israel diduga menggeser posisi ‘yellow line’, batas wilayah kendali militer Israel di Gaza timur, yang semakin meningkatkan kecemasan warga.
Pihak militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas tembakan dari kelompok bersenjata Palestina yang melukai seorang perwira cadangan Israel di dekat garis demarkasi tersebut. Israel menyebut insiden itu sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Namun, klaim tersebut dibantah oleh warga Gaza yang menyatakan serangan justru menghantam wilayah sipil yang jauh dari zona operasi militer.
Di tengah meningkatnya eskalasi kekerasan, proses evakuasi medis warga Palestina melalui perbatasan Rafah ke Mesir juga sempat mengalami gangguan. Bulan Sabit Merah Palestina menyebut Israel sempat membatalkan koordinasi evakuasi pasien pada Rabu pagi, sebelum akhirnya proses tersebut dilanjutkan kembali. “Kami diberi tahu bahwa proses evakuasi pasien pada hari ini dibatalkan,” katanya.
Hingga kini, otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 18.000 pasien masih menunggu evakuasi medis, termasuk sekitar 440 kasus kritis yang membutuhkan perawatan segera di luar Jalur Gaza. Menurut otoritas kesehatan setempat, sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 71.000 warga Palestina tewas, sementara hampir seluruh populasi Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta jiwa terpaksa mengungsi.
