Pemantau Konflik: Korban di Gaza Tak Bisa Disingkirkan
Pengakuan IDF terhadap Korban Jiwa di Gaza Menjadi Langkah Positif
Para pemantau independen menyambut baik laporan bahwa militer Israel (IDF) sekarang setuju dengan angka korban Palestina. Namun, baik di Gaza, Ukraina, atau zona perang lainnya, mengukur korban secara akurat tidaklah mudah.
Setelah bertahun-tahun menolak data yang dikeluarkan otoritas kesehatan Gaza sejak meletusnya perang Israel-Hamas pada Oktober 2023, militer Israel kini sepakat dengan data yang memperkirakan 71.000 warga Palestina telah tewas dalam perang tersebut.
Angka dari Kementerian Kesehatan Gaza selama ini dipandang pengamat internasional sebagai gambaran yang relatif dapat diandalkan. Pengakuan IDF bukanlah hal yang mengejutkan, jelas Therese Pettersson, peneliti Uppsala Conflict Data Program (UCDP), Universitas Uppsala, Swedia, kepada DW.
UCDP sudah berusia lebih dari 40 tahun. Sejak 2004 dokumentasi lembaga tersebut atas data korban jiwa akibat konflik mulai dapat diakses publik. “Rekaman data kematian kami yang begitu rinci membuatnya semakin sulit untuk menyangkal apa yang terjadi,” ujar Pettersson.
Angka Korban yang Bertentangan dari Moskow dan Kyiv
Sangatlah langka, pihak yang berkonflik akan ‘satu suara’ terkait jumlah korban jiwa. Dalam perang Rusia – Ukraina, baik Moskow maupun Kyiv tidak merilis jumlah korban jiwa secara rutin atau angka yang akurat terkait korban mereka sendiri. Rusia bahkan tidak memberikan pembaruan resmi selama lebih dari tiga tahun.
Sebaliknya, pihak-pihak yang bertikai sering membesar-besarkan kerugian lawan. “Hampir umum terjadi” kata Shawn Davies, analis UCDP. “Biasanya mengecilkan korban dari negara sendiri dan membesar-besarkan keberhasilan perang. Ini soal menjaga moral pendukung dan menutupi biaya sesungguhnya dari perang.”
Analisis Tidak Bergantung pada Angka Resmi
Pemantauan korban konflik dilakukan dengan mengumpulkan data seluas mungkin: pernyataan resmi pihak yang bertikai, laporan rumah sakit dan kamar jenazah, kesaksian saksi mata, liputan media, hingga unggahan media sosial.
Karena kualitas dan kredibilitas sumber berbeda-beda, data harus diverifikasi silang. UCDP dalam hal ini cenderung mempercayai “kerugian yang diakui” oleh suatu pihak, tetapi lebih berhati-hati terhadap klaim mereka akan korban dari pihak lawan.
UCDP juga dikenal konservatif diantara lembaga monitoring lainnya: mereka hanya menghitung angka kematian, bukan luka atau orang hilang, dan menggunakan datanya sebagai dasar untuk memantau tren konflik.
Tetapi ada metode lainnya. Laporan terbaru think tank AS CSIS menemukan data yang berlawanan untuk beberapa klaim yang dikeluarkan Rusia. Progres yang dimiliki Rusia dalam perang ini minim dan hal tersebut dibayar dengan kerugian yang besar. Menggunakan number berbagai data meliputi Kementerian Pertahanan Inggris, media Rusia Mediazona, dan BBC Rusia, serta wawancara dengan pejabat pemerintah AS, Eropa, dan Ukraina, CSIS memperkirakan:
- Hampir 1,2 juta jiwa korban dari pihak Rusia (tewas, luka, hilang) sejak perang dimulai, sepertiganya terjadi pada 2025.
- 275.000–325.000 tentara Rusia tewas hingga Desember 2025.
- 600.000 korban diperkirakan dari pihak Ukraina, termasuk 100.000–140.000 tewas.
“Angka-angka ini luar biasa,” tulis CSIS dalam laporannya, “Tidak ada negara dengan kekuatan besar yang mencapai angka korban sebesar ini sejak Perang Dunia II.”
Estimate korban tewas dari Rusia sejalan dengan data UCDP. “Estimasi kami adalah 350.000 korban tewas dari Rusia,” jelas Davies.
Nyawa Bukan Sekadar Angka
Lily Hamourtziadou, akademisi studi perang dari Birmingham City University, yang telah dua dekade mencatat korban konflik, mengatakan pengakuan IDF terhadap angka Gaza adalah hal langka dan positif. “Namun bisa saja mereka tahu angkanya jauh lebih tinggi, sehingga menyetujui hitungan yang lebih rendah,” jelasnya.
Menurut Hamourtziadou, bukanlah hal yang luar biasa jika suatu negara yang berperang mengakui jumlah korban. Mencatat dampak perang terhadap manusia adalah tanggung jawab negara. “Ini adalah tanggung jawab setiap negara, jika mereka menggunakan agresi melawan suatu populasi, mereka harus mengumpulkan data siapa saja yang terbunuh dan bagaimana mereka tewas … Ini adalah sebuah pendekatan yang lebih bermartabat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang melampaui angka. Laporan terkait korban jiwa kadang hanya sekadar angka, menurut Hamourtziadou informasi sederhana seperti nama dan usia korban dapat ditambahkan. Hal ini dapat menghadirkan dampak kemanusiaan yang sering tenggelam di balik fokus media dan pemerintah pada kerugian militer.
