Tiket China ke Iran: Miniatur Pesawat Tempur J-20, Apa Maknanya?
Penyerahan Miniatur Pesawat Tempur J-20 ke Iran
Pada 10 Februari 2026, dalam pertemuan militer di Kota Teheran, Iran, para pejabat militer China memberikan miniatur atau replika skala pesawat tempur siluman Chengdu J-20 “Mighty Dragon” kepada rekan mereka dari Iran. Acara ini diselenggarakan dalam rangka perayaan Hari Angkatan Udara dan dihadiri oleh atase militer asing yang berbasis di Teheran serta Brigadir Jenderal Bahman Behmard, Komandan Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF). Meskipun media lokal tidak mengungkapkan banyak informasi tentang acara tersebut, foto-foto resmi memperlihatkan para pejabat memegang model skala pesawat tempur J-20 generasi kelima.
Mengapa J-20 Penting
J-20 merupakan jet tempur generasi kelima andalan China yang menawarkan jangkauan jauh, avionik canggih, serta kapasitas persenjataan besar yang terintegrasi dalam desain siluman. Pesawat ini dirancang untuk menembus pertahanan udara modern dan memperebutkan superioritas udara melawan pesaing setara, serta mewakili salah satu upaya paling agresif China untuk menutup kesenjangan kemampuan teknologi militernya dengan Amerika Serikat.
Pada Januari 2026, China mengungkapkan kemampuan terbaru dari varian J-20S dalam sebuah acara pers yang menandai peringatan 15 tahun penerbangan pertama J-20. Para pejabat mengumumkan bahwa varian terbaru ini mampu melakukan serangan presisi terhadap target maritim. Kemampuan tersebut jauh lebih canggih dibandingkan apa pun yang saat ini dioperasikan IRIAF, armada yang kekurangan sumber daya dan sebagian besar terdiri dari pesawat tempur usang.
Armada Iran masih didominasi F-14 Tomcat buatan AS, F-4 Phantom, F-5, serta MiG-29 era Soviet, yang semuanya diperoleh sebelum Revolusi Iran 1979 dan terus beroperasi melalui peningkatan terbatas. Banyak pesawat juga telah dibongkar, dengan suku cadangnya diambil dari pesawat lain dalam armada tersebut. Mengingat usianya, pesawat tempur Iran tidak memiliki kemampuan siluman serta kekurangan sensor modern dan sistem tempur jaringan terintegrasi.
Potensi Kerja Sama Militer antara China dan Iran
Sanksi internasional telah membatasi kemampuan Iran untuk memperoleh suku cadang atau pesawat tempur baru. Konflik baru-baru ini juga menyoroti kerentanan tersebut. Serangan Israel dan AS tahun lalu merusak jaringan pertahanan udara Iran yang sudah tua dan menghancurkan sejumlah pesawat bahkan di pangkalan udara yang diperkuat.
Sementara itu, armada J-20 China berkembang dengan kecepatan tinggi, didukung oleh kemajuan industrinya di bidang kedirgantaraan dan infrastruktur yang luas, yang memungkinkan produksi perangkat keras militer baru secara cepat dan sistematis. Mulai beroperasi pada 2017, J-20 telah mendapat manfaat dari kapasitas produksi China, menjadikannya salah satu pesawat tempur generasi kelima dengan jumlah terbanyak di luar Amerika Serikat.
Rangkaian sensornya, termasuk radar AESA dan rudal jarak jauh seperti PL-15, menjadikannya platform tempur yang sangat menarik bagi Iran. Jika pesawat ini diakuisisi Iran, dengan pelatihan dan waktu yang cukup, hal itu dapat memungkinkan angkatan udaranya menantang dominasi udara dan berpotensi mencegah tindakan Amerika Serikat.
Apakah China Benar-Benar Turun Tangan?
Pertemuan pekan ini menunjukkan bahwa China mungkin bersedia menjalin kesepakatan dengan Iran. Namun, dengan aset angkatan laut Amerika yang sudah siaga menghadapi konflik, hanya ada satu cara J-20 dapat berperan saat ini, yakni melalui intervensi militer langsung oleh China.
Jika foto-foto penyerahan miniatur pesawat itu benar menandakan bahwa China bersedia menjual pesawat tempur J-20 kepada Iran, hal tersebut akan menjadi perkembangan besar dan berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Pada Januari 2026, China mulai menerapkan strategi baru untuk menggantikan teknologi Barat yang sudah usang di Iran dengan sistem modern buatan China. Tujuannya adalah mendukung apa yang disebut sebagai “kedaulatan digital” Iran.
Masih sulit dipastikan apakah upaya tersebut akan mencakup penjualan atau transfer pesawat tempur. Tetapi terdapat sinyal yang berkembang bahwa China bersedia terlibat dalam tindakan militer tertentu demi membela kepentingan Iran.
Persiapan Militer di Kawasan
Di samping itu, latihan angkatan laut besar yang melibatkan pasukan China, Rusia, dan Iran diperkirakan akan berlangsung di Teluk Oman. Saat ini Amerika Serikat dan Iran sedang dalam tahap negosiasi nuklir. Pada awal tahun 2026, AS berupaya untuk membatasi secara ketat program nuklir Iran, menghentikan pengembangan rudal balistiknya, dan mengakhiri dukungannya terhadap kelompok proksi regional.
Di bawah pemerintahan Donald Trump, tujuan AS adalah untuk menegosiasikan kesepakatan baru yang lebih ketat, dengan ancaman serangan udara dan tekanan sanksi maksimum. Di tengah proses perundingan, AS telah memperkuat kekuatan udara dan pertahanan udaranya di Timur Tengah dan Eropa. Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika kesepakatan yang membatasi program nuklir negara itu tidak tercapai.
Hingga 9 Februari, Angkatan Udara AS telah meningkatkan jumlah pesawat tempurnya di Timur Tengah menjadi tiga skuadron F-15E, satu skuadron F-16 Fighting Falcon, dan satu skuadron pesawat serang A-10 Thunderbolt II. Salah satu skuadron F-15E tersebut, yang berasal dari Pangkalan Angkatan Udara Mountain Home, Idaho, telah berada di wilayah itu selama sekitar 10 bulan, sebuah masa penugasan yang tergolong sangat lama.
Selain pesawat tempur, AS juga memperkuat aset pertahanan udaranya di kawasan tersebut dengan mengerahkan sistem pertahanan rudal Patriot dan THAAD tambahan. Menurut data pelacakan penerbangan, lebih dari 100 penerbangan pesawat angkut C-17 Globemaster III dan C-5 Galaxy telah menuju Timur Tengah. AS juga mengerahkan helikopter pencarian dan penyelamatan terbarunya, HH-60W Jolly Green II, ke kawasan tersebut, menurut pejabat AS dan gambar yang dirilis secara publik oleh militer AS.
