Ancaman Ganda bagi Iran, AS Tambah 180 Pesawat Tempur di Dua Kapal Induk

Kekuatan Militer AS yang Meningkat di Wilayah Teluk

Amerika Serikat kini telah mengerahkan Kapal Induk USS Gerald R. Ford untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln di perairan Teluk dekat Iran. Kehadiran dua kapal induk AS ini menciptakan kekuatan serang besar-besaran yang terdiri dari dua grup serang dari dua kapal induk tersebut. Hal ini menyusul kegagalan perundingan nuklir dan penembakan jatuh pesawat tak berawak, yang meningkatkan ketegangan di Timur Tengah ke tingkat yang berbahaya.

Dalam apa yang digambarkan sebagai manuver strategis penting dan berbahaya, pemerintah AS telah memerintahkan USS Gerald R. Ford untuk meninggalkan Laut Karibia dan segera menuju Timur Tengah. Pengerahan ini menambah kelompok serang kapal induk kedua di wilayah tersebut, bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah berpatroli di perairan dekat Iran selama lebih dari dua minggu.

Mengapa Sekarang?

Keputusan ini diambil hanya beberapa hari setelah negosiasi diplomatik tidak langsung antara Washington dan Teheran di Oman berakhir tanpa terobosan. Para pejabat Amerika telah memperingatkan kalau kegagalan Iran untuk mengurangi program nuklirnya dapat memiliki konsekuensi ‘traumatis’, yang mendorong eskalasi militer cepat ini untuk menekan kepemimpinan Iran.

Double Trouble Buat Iran

Pengerahan dua kapal induk jelas menjadi masalah ganda bagi pertahanan Iran, jika serangan benar-benar dilakukan AS. USS Abraham Lincoln (CVN-72), sebuah kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz, sudah berada di lepas pantai Iran. Kapal ini membawa sayap udara yang tangguh dengan sekitar 90 pesawat, termasuk pesawat tempur siluman F-35C Lightning II dan F/A-18 Super Hornet, yang mampu menyerang jauh ke wilayah musuh.

USS Gerald R. Ford (CVN-78) adalah kapal induk terbaru dan terbesar di Angkatan Laut AS. Kapal ini dilengkapi dengan Sistem Peluncuran Pesawat Elektromagnetik (EMALS), yang memungkinkan peluncuran jet lebih cepat dan dengan tekanan lebih rendah pada pesawat dibandingkan dengan ketapel uap berusia tua, sehingga meningkatkan tingkat peluncuran pesawat tempur sebesar 33 persen.

Dengan kedua kapal induk berada di wilayah tersebut, AS kini memiliki kekuatan udara terapung yang terdiri dari hampir 180 pesawat sayap tetap dan helikopter. Kekuatan tembak gabungan ini melebihi total kapasitas angkatan udara banyak negara dan memberi Washington kemampuan serangan sepanjang waktu terhadap target strategis.

Armada Pengawal

Kapal induk tidak berlayar sendirian; mereka dilindungi oleh armada kapal perusak dan kapal penjelajah berpeluru kendali. Kapal-kapal perang ini, termasuk kapal perusak kelas Arleigh Burke, dilengkapi dengan sistem tempur Aegis untuk bertahan melawan serangan rudal dan memburu kapal selam musuh, membentuk kubah besi di atas armada.

Peringatan yang Jelas

Mengirim dua kelompok kapal induk adalah taktik langka yang hanya digunakan selama krisis besar untuk menunjukkan tekad yang kuat. AS bertujuan untuk mencegah Teheran dari agresi lebih lanjut, khususnya terkait program rudal balistiknya dan dukungan terhadap kelompok proksi regional, dengan menghadirkan ancaman kekuatan militer yang luar biasa dan kredibel.

Suasana sudah tegang setelah sebuah jet tempur AS dari kelompok serang Lincoln menembak jatuh sebuah drone Iran awal pekan ini. Pesawat tanpa awak itu mendekati armada Amerika di Laut Arab Utara, yang menyebabkan bentrokan langsung yang membuat semua pasukan AS di wilayah tersebut siaga tinggi.

Iran bereaksi keras terhadap peningkatan kekuatan militer Amerika, dengan media pemerintah menyiarkan peringatan tentang respons yang ‘mengerikan’ terhadap setiap agresi. Teheran mengklaim militernya siap menenggelamkan kapal-kapal agresif dan telah memamerkan persenjataan rudal anti-kapal dan drone miliknya sendiri dalam parade militer baru-baru ini.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Kawasan tersebut kini menghadapi kebuntuan yang genting dengan kekuatan militer besar-besaran yang terkonsentrasi di area kecil. Meskipun jalur diplomatik secara teknis tetap terbuka, kehadiran fisik USS Gerald R. Ford di samping Lincoln menunjukkan bahwa Washington sedang mempersiapkan diri untuk semua skenario, termasuk potensi operasi tempur jika kebuntuan berlanjut.