|

Haul ke-74 Nyai Nur Khodijah: Fakta Baru Soal Tahun Wafat Tokoh Pesantren Putri

Fakta Baru tentang Tahun Wafat Nyai Nur Khodijah

Haul ke-74 pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Nyai Nur Khodijah, telah mengungkap fakta baru terkait tahun wafat tokoh ulama perempuan yang dikenal sebagai pelopor pesantren putri di Indonesia. Selama ini, catatan mengenai wafatnya istri KH Bisri Syansuri tercatat berbeda-beda dalam sejumlah sumber, mulai dari tahun 1949 hingga 1958.

Penelusuran terbaru yang dilakukan oleh peneliti sanad tiga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), M Faishol, mengungkap bahwa perbedaan tersebut terjadi karena metode pencatatan pada masa lampau yang kerap menggunakan patokan peristiwa tertentu. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa perhitungan hijriah menjadi dasar utama untuk menentukan tahun wafat Nyai Nur Khodijah.

“Sehingga, secara perhitungan, untuk Bu Nyai Nur Khodijah, sesuai hitungan hijriah, maka pada 2023 adalah Haul beliau yang ke-70, bukan ke-74,” ujar M Faishol.

Sumber Data dan Kesaksian Keluarga

Ia menjelaskan bahwa sebagian data diperoleh dari kesaksian langsung keluarga yang pernah menjadi santri Nyai Nur Khodijah. “Data yang diperoleh dari ibunya yang merupakan santri Bu Nyai Nur Khodijah. Ini berdasarkan kesaksian ibu saya, bahwa saat Mbah Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulung saya belum lahir (Mbak Jamilah lahir pada Desember 1955). Ini komparasi saling melengkapi antara kesaksian ibu saya, dan data tertulis tahun Masehi 1955,” jelasnya.

Temuan penting kemudian muncul setelah ditemukan buku berjudul Risalah Akhir Sanah di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan beberapa bulan lalu. Dalam buku tersebut, tertulis secara jelas waktu wafat Nyai Nur Khodijah. Menurut catatan itu, Nyai Nur Khodijah wafat pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah yang jika dikonversi ke kalender Masehi jatuh pada Ahad, 15 Mei 1955 dalam usia 63 tahun.

“Dalam buku Risalah Akhir Sanah tertulis kewafatan Nyai Nur pada 22 Ramadhan 1375. Agaknya keliru sedikit terkait tahun, yang semestinya adalah 22 Ramadhan 1374,” kata Faishol.

Bulan yang Sama Saat Lahir dan Wafat

Menariknya, data tersebut juga menunjukkan bahwa Nyai Nur Khodijah lahir dan wafat pada bulan yang sama, yakni bulan suci Ramadhan. Ia tercatat lahir pada 21 Ramadhan 1314 Hijriah dan wafat pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah.

Dikenal Sebagai Pelopor Pesantren Putri

Nyai Nur Khodijah dikenal sebagai tokoh perempuan yang menjadi pelopor pendidikan pesantren putri di Indonesia. Sosoknya dikenang sebagai pribadi yang lembut, sabar, cerdas, tegas, disiplin, serta dikenal ahli tirakat.

Selama kurang lebih 38 tahun, Nyai Nur mendampingi KH Bisri Syansuri dalam mengasuh Pesantren Denanyar. Nyai Nur Khodijah merupakan putri dari pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah. Dari pernikahan tersebut lahir tujuh anak, yakni Abdul Wahab, Abdul Hamid, Nur Khodijah, Abdurrohim, Fathimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrohiyah.

Putra pertama, Kiai Abdul Wahab lahir pada 1887, disusul Kiai Abdul Hamid pada 1890, dan Nyai Nur Khodijah sebagai anak ketiga yang lahir pada 1897. Berdasarkan arsip ANRI berjudul Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa, tanggal kelahiran Nyai Nur Khodijah tercatat pada 21 Ramadhan 1314 Hijriah atau 23 Februari 1897.

Pada usia sekitar 17 tahun, Nyai Nur Khodijah menikah dengan KH Bisri Syansuri yang kala itu berusia sekitar 27 tahun pada 1914. Beberapa tahun setelah pernikahan, KH Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas sebagai persiapan memimpin pesantren sendiri.

Pada 1917, ia kemudian mendirikan pesantren putra di Desa Denanyar. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1919, KH Bisri dan Nyai Nur Khodijah mendirikan pesantren khusus putri. Pesantren tersebut kemudian dikenal luas sebagai lembaga pendidikan yang mendidik perempuan agar menjadi pribadi bermartabat, memahami dasar-dasar keislaman melalui pengajian kitab kuning, serta mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.

Sejumlah tokoh perempuan pesantren juga pernah menimba ilmu kepada Nyai Nur Khodijah, termasuk keponakannya sendiri, putri dari KH Abdul Wahab Hasbullah, yakni Nyai Muktamaroh dan Nyai Mahfudhoh.