|

Alasan KPK Pilih Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah Ternyata Bukan Sakit, Kejanggalan Terbongkar dari Istri Noel

Penahanan Gus Yaqut di Rumah, KPK Beri Penjelasan

Mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut mendapat perlakuan khusus dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tidak seperti tahanan KPK pada umumnya, Gus Yaqut yang menjadi tersangka kasus korupsi kuota haji tidak ditahan di Rutan KPK Cabang Gedung Merah Putih. Ia justru ditempatkan sebagai tahanan rumah.

Alasan Pengalihan Status Penahanan

Dalam penjelasannya, KPK menegaskan bahwa pengalihan status penahanan Gus Yaqut bukan karena masalah kesehatan, melainkan murni merespons permohonan dari pihak keluarga. Keputusan ini sempat memicu pertanyaan publik, mengingat sebelumnya, pengalihan penahanan atau pembantaran biasanya dikaitkan dengan kondisi medis darurat.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memberikan penjelasan yang lugas. “Bukan karena kondisi sakit. Jadi memang karena ada permohonan dari pihak keluarga, kemudian kami proses,” ujar Budi saat memberikan keterangan kepada wartawan.

Lebih lanjut, Budi juga menjawab perbandingan kasus penahanan Gus Yaqut dengan penanganan mantan Gubernur Papua, mendiang Lukas Enembe (LE), yang sebelumnya hanya mendapatkan status pembantaran meski dalam kondisi sakit parah. Menurutnya, KPK memiliki pertimbangan tersendiri dalam menangani setiap tersangka.

“Mengapa beda dengan LE? Setiap proses penyidikan tentu memiliki kondisi dan strategi penanganan perkara yang berbeda, termasuk dalam penahanan seseorang sebagai tersangka,” ujar Budi.

Permohonan Keluarga Ditetapkan Secara Komprehensif

Berdasarkan keterangan dari pihak KPK, permohonan dari keluarga Gus Yaqut diajukan pada Selasa (17/3/2026) dan telah ditelaah secara komprehensif oleh tim penyidik dengan merujuk pada ketentuan KUHAP. Alhasil, sejak Kamis (19/3/2026) malam, status penahanan Gus Yaqut resmi dialihkan.

Mantan orang nomor satu di Kementerian Agama itu kini menjalani masa tahanan sementaranya di Mahkota Residence, kawasan Condet. Meski berada di luar sel rutan, KPK menjamin pengawasan melekat dan pengamanan ketat tetap diberlakukan agar proses hukum tidak terhambat.

Budi Prasetyo menegaskan bahwa pengalihan status penahanan tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tersebut hanya diberlakukan untuk sementara waktu. Pihaknya menyatakan akan terus memberikan informasi lanjutan mengenai batas waktu penahanan rumah tersebut.

“Pelaksanaannya yakni dengan melakukan pengalihan jenis penahanannya, untuk sementara waktu. Untuk sampai kapannya nanti akan diupdate lagi, karena pengalihan ini memang tidak bersifat permanen,” ujar Budi.

Awalnya Diketahui dari Istri Noel

Sebelum adanya konfirmasi resmi ini, teka-teki “hilangnya” Gus Yaqut sempat menjadi perbincangan hangat dan kasak-kusuk di kalangan sesama tahanan Rutan KPK Cabang Gedung Merah Putih. Desas-desus ini pertama kali mencuat ke publik melalui cerita Silvia Rinita Harefa, istri mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan (Noel), saat membesuk suaminya pada momen perayaan Idulfitri, Sabtu (21/3/2026).

Silvia menuturkan bahwa para penghuni rutan merasa keheranan karena Gus Yaqut tiba-tiba tidak ada di selnya sejak malam takbiran. Kabar awal yang beredar di dalam rutan menyebutkan bahwa ia dibawa keluar dengan alasan pemeriksaan. Hal ini dinilai sangat janggal oleh para tahanan mengingat waktu pelaksanaannya bertepatan dengan malam menjelang Idulfitri.

Kecurigaan semakin menguat ketika Gus Yaqut benar-benar dipastikan absen dari barisan tahanan muslim yang melaksanakan salat Idulfitri berjemaah di Gedung Juang KPK.

Tersangka Lain Dipersilakan Ajukan Penahanan Rumah

Merespons pertanyaan wartawan mengenai apakah tahanan lain bisa meminta perlakuan serupa untuk ditahan di rumah, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memberikan jawaban yang terbuka dan lugas. Ia menegaskan bahwa setiap permohonan yang masuk akan dievaluasi secara objektif.

“Permohonan bisa disampaikan, yang selanjutnya akan ditelaah oleh penyidik. Karena kewenangan penahanan ada pada penyidik,” kata Budi kepada wartawan.

Kritik Terhadap KPK

Mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo Harahap, meminta agar lembaga antirasuah tersebut segera mencabut keistimewaan yang diberikan kepada tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tersebut. Yudi menilai langkah KPK sangat janggal dan seolah menunjukkan ketidakpercayaan diri penyidik terhadap bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia mengingatkan bahwa ada prosedur yang lebih tepat jika memang alasan di balik pengalihan tersebut adalah masalah kesehatan, yakni pembantaran, bukan pemindahan ke rumah. “Menurut saya ini sangat janggal, dan KPK harus mencabut. Jika pun alasan sakit maka tindakan yang dilakukan adalah pembantaran di rumah sakit. Di mana ketika sudah sehat akan ditempatkan di rutan lagi.”

Langkah KPK yang mengabulkan permohonan keluarga Gus Yaqut ini dinilai Yudi sebagai tindakan “bermain api”. Menurutnya, alasan KPK bahwa pengalihan penahanan tersebut sesuai prosedur hukum dan hanya bersifat sementara hanyalah sebuah pembenaran.

Keputusan ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada kasus dugaan korupsi kuota haji semata, melainkan pada nasib pemberantasan korupsi di masa depan.