|

Paus Leo XIV Dapat Kejutan Patung Santo Yusuf Arimatea dari Indonesia

Paus Leo XIV Menerima Patung Yusuf Arimatea dari Indonesia

Paus Leo XIV menerima patung yang menggambarkan tokoh Yusuf Arimatea dalam audiensi di Vatikan menjelang Hari Raya Paskah. Karya seni tersebut merupakan hasil karya seniman Indonesia, AM Putut Prabantoro, yang memperkenalkan detail simbolik dalam desainnya, termasuk penggunaan warna dan penamaan khusus.

Patung ini menampilkan adegan penurunan tubuh Yesus Kristus dari salib, yang menjadi bagian penting dari kisah peristiwa Salib. Dalam kisah tersebut, Yusuf Arimatea, seorang tokoh elit Yahudi, berani meminta jenazah Yesus untuk diturunkan dan dimakamkan dengan layak. Adegan ini tidak hanya menjadi momen penting dalam kehidupan Yesus, tetapi juga mencerminkan keberanian dan iman Yusuf.

Proses Pembuatan Patung

Menurut Putut Prabantoro, founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), patung tiga dimensi ini adalah karya pertama di Indonesia yang menggambarkan adegan penurunan tubuh Yesus dari salib. Ia mengatakan bahwa tidak mudah menemukan karya serupa di belahan dunia lain, termasuk di Roma, yang merupakan pusat gereja Katolik dunia.

Putut menyebutkan bahwa ia membutuhkan waktu selama tujuh bulan untuk menyelesaikan pembuatan patung ini. Ia bekerja sama dengan Mas Nico dari Brata Gallery di Yogyakarta. Sebelum membuat patung, ia melakukan penelusuran melalui internet dan meminta bantuan para pematung di berbagai kota di Indonesia, tetapi mereka semua menolak karena tidak memiliki contoh atau model jadi.

Detail Simbolik dalam Patung

Putut mengungkapkan bahwa ada dua hal penting dalam patung ini: warna dan nama. Dalam visi kakaknya, L Putut Widiantoro, adegan penurunan Yesus dari salib digambarkan dalam warna-warna tertentu. Oleh karena itu, Putut meminta pembuat patung untuk memberi warna khusus pada tokoh utama, yaitu Yusuf Arimatea, sementara tokoh-tokoh lain diberi warna hitam.

Alasan penggunaan warna hitam adalah untuk menunjukkan suasana duka cita, kecuali bagi Yusuf Arimatea. Selain itu, nama patung harus ditulis dalam bahasa Ibrani dan Latin, bukan dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Untuk memastikan penulisan nama yang benar, Putut bertanya kepada dua pastor, Rm Markus Solo Kewuta SVD dan Rm Antonius Suhermanto.

Audiensi dengan Paus Leo XIV

Delegasi PWKI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) hadir dalam audiensi umum di Vatikan. Patung tersebut diberikan kepada Paus Leo XIV oleh Stanislaus Jumar Sudiyana. Hadir dalam audiensi tersebut adalah Mayong Suryo Laksono, Bonfilio Mahendra Wahanaputera, Asni Ovier Dengen Paluin, serta Ketua Komisi Komunikasi Sosial Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dan Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial, Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo.

Selain itu, PWKI dan KWI menandatangani nota kesepahaman (MOU) penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatican News. MOU ini ditandatangani setelah audiensi dengan Paus Leo XIV.

Perjalanan ke Vatikan

Keberangkatan ke Vatikan diputuskan oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Surabaya. Menurut Mayong Suryo Laksono, keputusan ini dibuat karena Uskup Surabaya hanya memiliki lima hari untuk melakukan penandatanganan MOU, yaitu antara 23 hingga 27 Maret 2026. Selain itu, tanggal 25 Maret merupakan hari raya Bunda Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel.

Perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat menyebabkan kekacauan jalur penerbangan, kekhawatiran atas keselamatan penerbangan, dan harga tiket pesawat yang melambung. Hal ini hampir membuat keberangkatan ke Roma ditunda. Namun, akhirnya delegasi berhasil tiba di Vatikan tepat waktu.

Makna Patung dalam Misa Kudus

Dalam misa kudus pada Rabu (25/03/2026), sebagian makna misteri patung tersebut “dibongkar” di kapel Biara St Maria Teresa Scrilli, di Via Baglioni 10, Roma. Patung ini dianggap sebagai suatu rahasia atau misteri oleh Uskup Surabaya.