Mengatasi Overthinking dengan Cara Unik
Jendela Magazine – Pernahkah Anda merasa terperangkap dalam pusaran pikiran yang berputar tanpa henti, mengulang hal yang sama berkali-kali tanpa menemukan jalan keluar? Kondisi yang kerap disebut sebagai overthinking ini bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan sebuah beban mental yang dapat menguras energi emosional dan fisik.
Meski overthinking bukanlah diagnosis medis, kondisi ini sering kali menyertai gangguan kecemasan dan depresi. Cleveland Clinic menyebutnya sebagai ruminasi—sebuah pola pikir berulang yang sulit dihentikan. Sementara itu, LifeMD mengungkap bahwa akar overthinking bersifat multidimensi, meliputi aspek psikologis, emosional, hingga biologis.
Lantas, mengapa seseorang bisa terjebak dalam siklus overthinking yang melelahkan? Berikut adalah beberapa faktor psikologis yang melatarbelakanginya:
1. Takut Akan Kegagalan
Sejak kecil, banyak orang diajarkan bahwa kegagalan berujung pada hilangnya penghargaan atau kasih sayang. Ungkapan seperti, “Kamu tidak dapat hadiah kalau nilaimu jelek,” tanpa sadar membentuk persepsi bahwa kegagalan identik dengan penolakan.
Akibatnya, seseorang menjadi hiperkritis terhadap diri sendiri. Rasa takut membuat kesalahan mendorong otak terus memproyeksikan skenario terburuk, sehingga analisis berlebihan menjadi mekanisme pertahanan yang justru menjebak.
2. Tekanan Perfeksionisme
Perfeksionisme sering menjadi pemicu utama overthinking. Individu dengan standar tinggi cenderung terobsesi pada detail kecil dan khawatir terhadap penilaian orang lain.
Mereka terus membandingkan realita dengan harapan, menciptakan kecemasan yang berujung pada stres kronis—bahkan kelelahan mental (burnout).
3. Luka Emosional Masa Lalu
Trauma atau pengalaman buruk di masa lampau dapat memicu overthinking sebagai bentuk mekanisme pertahanan. Pikiran terus bekerja menganalisis situasi untuk menghindari potensi bahaya.
Namun, alih-alih melindungi, kebiasaan ini justru membuat seseorang terus merasa waspada dan sulit mempercayai lingkungan sekitarnya.
4. Kurangnya Kepercayaan Diri
Rendahnya rasa percaya diri sering membuat seseorang ragu dalam mengambil keputusan. Ketidakmampuan mempercayai penilaian diri mendorongnya untuk mencari validasi dari luar.
Setiap pilihan terasa seperti beban, dan bahkan setelah keputusan dibuat, keraguan terus menghantui.
5. Kesulitan Mengelola Emosi
Gangguan regulasi emosi menjadi akar overthinking yang sering diabaikan. Ketidakmampuan mengendalikan respons emosional membuat seseorang mudah kewalahan oleh tekanan.
Daripada menyelesaikan masalah, energi mental terkuras untuk kekhawatiran berulang yang tidak produktif.
Cara Mengatasi Overthinking
Overthinking yang dibiarkan berlarut dapat tumbuh seperti bola salju dan semakin sulit dikendalikan. Salah satu strategi sederhana untuk meredamnya adalah dengan menuangkan pikiran ke dalam jurnal. Metode ini membantu mengorganisir kekacauan mental menjadi lebih terstruktur dan rasional.
Namun, jika overthinking sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Terapi psikologis dapat memberikan teknik dan perspektif baru untuk memutus rantai pola pikir yang tidak produktif.
