Waktu Ideal Anak Mulai Puasa, Ini Saran Dokter
Jendela Magazine
Pada masa kini, banyak orangtua yang merasa bingung dalam menentukan kapan anak sebaiknya mulai belajar berpuasa. Kekhawatiran ini biasanya muncul karena orangtua khawatir anak belum cukup kuat untuk menahan lapar dan haus sepanjang hari. Namun, sebenarnya anak sudah bisa memulai belajar puasa sejak usia dini, asalkan dilakukan secara bertahap dan tanpa tekanan.
Tidak Harus Langsung Puasa Penuh
Menurut dr. Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc, anak tidak perlu langsung menjalani puasa penuh dari awal. Proses belajar puasa dapat dimulai dengan durasi yang sangat singkat, sesuai kemampuan anak. Yang terpenting bukanlah lamanya puasa, melainkan niat dan pengalaman anak dalam mencoba.
“Waktu saya kecil, mungkin umur TK, sudah mulai belajar puasa. Enggak harus full, enggak harus setengah hari. Dia punya niat mau puasa saja, itu sudah bagus,” ujar dr. Irwan dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Ia mencontohkan, anak dapat memulai puasa hingga waktu tertentu, misalnya sampai zuhur, lalu perlahan ditingkatkan sesuai kemampuan. Menurutnya, proses ini sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan, bukan dengan tekanan.
Mulai Sejak Dini, Tapi Tanpa Paksaan
dr. Irwan menekankan bahwa keinginan anak untuk berpuasa harus datang dari dirinya sendiri. Anak yang merasa bangga karena berhasil mencoba puasa akan lebih termotivasi untuk mengulanginya. Rasa bangga tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan positif pada anak.
“Dimulai dari sejak dini saja. Kalau memang dia sudah mau ikut puasa, ya enggak apa-apa. Mau satu jam, dua jam, yang penting buat dia, ‘eh aku sudah puasa’,” ujarnya.
Perhatikan Kondisi Gizi Anak
Meski anak boleh belajar puasa sejak dini, dr. Irwan mengingatkan bahwa kondisi gizi tetap menjadi faktor utama yang harus diperhatikan. Orangtua perlu memastikan anak memiliki asupan makanan yang cukup, seimbang, dan tidak mengalami gangguan tumbuh kembang.
“Perhatikan juga intake-nya sehari-hari seperti apa, kandungan makanannya seperti apa. Itu harus bagus dulu,” kata dr. Irwan.
Sementara itu, anak dengan kondisi gizi yang kurang sebaiknya tidak dipaksakan untuk berpuasa.
Suplemen dan Vitamin Boleh Diberikan Bila Perlu
Di sisi lain, dr. Irwan juga menilai, anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan tetap membutuhkan asupan nutrisi tambahan bila diperlukan. Orangtua boleh memberikan suplemen pendukung pertumbuhan sesuai kebutuhan anak.
“Anak-anak kan perlu pertumbuhan. Itu juga perlu dibantu dengan suplemen-suplemen untuk pertumbuhan,” saran dr. Irwan.
Namun, ia menegaskan bahwa suplemen hanya bersifat pendukung, bukan pengganti makanan utama.
Kunci Utama: Tidak Memaksa
dr. Irwan kembali menegaskan bahwa anak tidak boleh dipaksa berpuasa jika belum siap secara fisik maupun mental. “Artinya, untuk anak-anak kalau ingin memulai puasa, sedini mungkin, kalau memang anaknya sudah mau, jangan dipaksa. Tapi perhatikan juga intake-nya dia,” tegas dr. Irwan.
Menurutnya, pendekatan yang lembut dan bertahap akan membuat anak lebih nyaman belajar berpuasa hingga kelak mampu menjalankannya sebagai kewajiban dengan kesadaran sendiri.
