Surabaya Siaga Banjir: Pakar UNAIR Ungkap Akar Masalah dan Solusi Menghadapi Puncak Musim Hujan 2026

SURABAYA – Sebagai kota metropolitan dengan tingkat urbanisasi tinggi, Surabaya menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan air saat curah hujan tinggi. Berdasarkan analisis pakar Universitas Airlangga, kapasitas infrastruktur drainase yang belum memadai menjadi faktor kunci yang memicu genangan dan banjir di berbagai titik kota.

Dio Alif Hutama, dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR, mengingatkan pentingnya antisipasi dini terhadap potensi banjir bandang, terutama menyambut puncak musim hujan yang diprediksi BMKG Maritim Tanjung Perak terjadi pada Januari dan Februari 2026.

Faktor Penyebab Banjir: Kombinasi Alam dan Antropogenik

Berdasarkan analisis mendalam, terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan banjir di Kota Pahlawan:

1. Permasalahan Infrastktur Drainase

  • Kapasitas saluran drainase tidak memadai untuk menampung curah hujan ekstrem
  • Terjadi sedimentasi dan penyempitan kapasitas saluran air
  • Infrastktur existing belum optimal menghadapi fenomena cuaca ekstrem

2. Permasalahan Tata Ruang dan Resapan Air

  • Permukaan tanah yang tertutup beton dan aspal mengurangi resapan air alami
  • Alih fungsi lahan resapan air seperti RTH dan lahan basah
  • Urbanisasi yang tidak terkendali memperparah runoff coefficient

3. Faktor Perilaku Masyarakat

  • Pembuangan sampah ke sungai dan saluran drainase
  • Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelancaran saluran air
  • Partisipasi publik dalam pengelolaan lingkungan yang masih terbatas

4. Faktor Geografis dan Hidrologi

  • Curah hujan tinggi dalam waktu singkat melebihi kapasitas drainase
  • Wilayah pesisir berisiko mengalami banjir rob dari Selat Madura
  • Karakteristik hidrologi yang kompleks dengan sedimentasi tinggi

“Fenomena banjir di beberapa wilayah Surabaya menunjukkan kapasitas infrastruktur drainase perkotaan masih belum memadai, khususnya menghadapi fenomena cuaca ekstrem yang kerap terjadi,” tegas Dio, Senin (17/11).

Solusi Komprehensif: Pendekatan Teknis dan Tata Kelola

1. Optimalisasi Infrastktur Existing

  • Normalisasi saluran drainase secara berkala
  • Pemeliharaan pompa air, pintu air, dan pintu laut menuju muara
  • Percepatan penyelesaian proyek drainase yang sedang berjalan
  • Optimisasi bozem dan kolam retensi di titik rawan genangan

2. Perbaikan Tata Ruang Berkelanjutan

  • Penegakan ketat terhadap rencana tata ruang
  • Perlindungan ruang terbuka hijau dan daerah resapan
  • Pengendalian alih fungsi lahan secara sistematis
  • Pengembangan konsep water sensitive urban design

3. Pendekatan Partisipatif dan Edukasi

  • Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga saluran air
  • Program kemitraan masyarakat dalam pengelolaan drainase
  • Kampanye anti buang sampah ke sungai secara masif
  • Pembentukan komunitas peduli lingkungan di tingkat RW

Strategi Jangka Panjang Menuju Kota Tahan Banjir

Dio menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam penanganan banjir Surabaya:

“Tata kelola kota yang baik untuk mengantisipasi banjir perlu dilakukan secara terpadu. Tidak hanya berfokus pada perbaikan saluran, tetapi juga pada pengelolaan ruang kota secara berkelanjutan.”

Beberapa rekomendasi strategis meliputi:

  • Integrasi sistem drainase dengan pengelolaan DAS
  • Pengembangan early warning system yang efektif
  • Implementasi blue-green infrastructure concept
  • Sinergi antar dinas dan stakeholders terkait

“Penanganan banjir di Surabaya harus dilakukan dengan kerjasama berbagai pihak. Pemerintah perlu memastikan infrastruktur pengendali banjir berfungsi optimal dan tata ruang kota dijalankan secara konsisten, sementara masyarakat juga harus berperan aktif menjaga lingkungan,” pungkas Dio.

Dengan implementasi solusi komprehensif ini, diharapkan Surabaya dapat bertransformasi menjadi kota yang lebih resilien terhadap banjir, sekaligus menciptakan lingkungan perkotaan yang nyaman dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.