6 Fakta Menarik Owa Kalimantan, Sang Akrobat Hutan Borneo
Di tengah hutan tropis Kalimantan yang lembap dan penuh kehidupan, terdengar nyanyian merdu yang memecah kesunyian pagi. Suara ini bukan berasal dari burung, melainkan panggilan khas dari owa kalimantan (
Hylobates albibarbis
), primata lincah yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pucuk-pucuk pohon. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem hutan hujan basah, khususnya hutan rawa gambut yang menjadi rumah alami mereka.
Sayangnya, suara indah dari owa ini kini semakin langka. Populasi mereka mengalami penurunan drastis dalam beberapa dekade terakhir, membawa spesies endemik ini ke ambang kepunahan. Ancaman deforestasi yang masif membuat ruang hidup mereka semakin sempit. Inilah kisah tentang primata istimewa yang berjuang untuk bertahan di tengah perubahan lingkungan yang terus menggerus habitat alaminya.
Janggut putih jadi ciri khasnya yang paling menonjol
Jika kamu melihat owa kalimantan, hal pertama yang mungkin menarik perhatian adalah “jenggot” putih tebal yang kontras dengan wajah hitam dan bulu cokelat keabuan. Ciri fisik ini menjadi asal usul nama ilmiahnya,
albibarbis, yang berasal dari bahasa Latin “albus” (putih) dan “barba” (janggut). Sangat deskriptif, kan?
Meski sering disebut sebagai Owa Kelabu, nama “Owa Kalimantan Janggut Putih” lebih tepat merujuk pada spesies ini. Dulu, mereka dianggap sebagai subspesies dari Owa Lincah (
Hylobates agilis
) di Sumatra, namun penelitian DNA modern membuktikan bahwa mereka adalah spesies unik yang berbeda. Jadi, jangan sampai tertukar!
Owa kalimantan adalah primata monogami

Di dunia satwa, tidak banyak yang menerapkan gaya hidup monogami. Namun, owa kalimantan adalah salah satu pengecualian. Mereka tinggal dalam kelompok keluarga kecil yang biasanya terdiri dari satu pasangan dewasa dan satu hingga empat anak yang belum mandiri. Ikatan antara pasangan ini sangat kuat dan bisa berlangsung seumur hidup.
Keluarga kecil ini sangat teritorial, menjaga wilayah antara 30 hingga 47 hektare. Saat anak-anaknya tumbuh dewasa, sekitar usia empat tahun, mereka akan didorong oleh induk sejenis untuk meninggalkan kelompok dan membentuk keluarga baru. Proses ini membantu menjaga keseimbangan sumber daya dan kelangsungan hidup spesies.
Mereka berkomunikasi lewat nyanyian merdu setiap pagi

Salah satu hal paling magis dari owa kalimantan adalah “konser” pagi mereka. Setiap fajar, pasangan owa akan menyanyikan duet merdu yang bisa terdengar hingga dua kilometer. Vokal utama dalam duet ini adalah sang betina yang mengeluarkan “great call”, yaitu serangkaian nada melengking kompleks, sementara sang jantan memberikan jawaban singkat.
Nyanyian ini bukan hanya untuk menunjukkan kebolehan vokal. Menurut
New England Primate Conservancy
, panggilan ini memiliki fungsi ganda: memperkuat ikatan pasangan dan menyatakan kepemilikan wilayah kepada owa lain. Ini seperti pesan “area ini sudah ada yang punya!”
Gerakannya sangat lincah bak akrobat di pepohonan

Owa kalimantan adalah primata arboreal, artinya mereka habiskan hampir seluruh waktu di atas pohon. Untuk berpindah dari dahan ke dahan lain, mereka menggunakan teknik brachiation—berayun dengan lengan yang panjang dan kuat.
Dengan lengan 1,5 kali lebih panjang dari kakinya, mereka bisa melompat antar pohon hingga jarak lebih dari 10 meter dalam sekali ayunan. Kecepatan mereka mencapai 55 km/jam. Kemampuan ini membuat mereka efisien dalam mencari makanan sekaligus menghindari predator seperti macan dahan, elang, dan ular sanca.
Pola makannya membantu menjaga kesehatan hutan

Sebagai primata frugivora, makanan utama owa kalimantan adalah buah-buahan matang, terutama buah ara yang menyumbang sekitar 25% dari total makanan mereka. Saat buah sulit ditemukan, mereka juga makan daun muda, bunga, atau serangga.
Peran mereka tidak hanya sebagai pemakan buah. Menurut
New England Primate Conservancy
, owa kalimantan adalah penyebar biji yang efektif. Setelah memakan buah, bijinya akan dikeluarkan bersama kotoran di lokasi jauh dari pohon induk, membantu regenerasi hutan secara alami. Kesehatan populasi owa berbanding lurus dengan kesehatan hutan itu sendiri.
Statusnya kini terancam punah akibat ulah manusia

Ini adalah fakta paling menyedihkan. IUCN telah mengklasifikasikan owa kalimantan sebagai spesies Terancam Punah. Populasinya turun lebih dari 50% dalam 30 tahun terakhir, dan tren ini diprediksi akan terus berlanjut.
Ancaman terbesar datang dari hilangnya habitat. Deforestasi besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit, penebangan liar, aktivitas pertambangan, dan kebakaran hutan menjadi penyebab utama. Selain itu, perburuan ilegal untuk perdagangan hewan peliharaan juga memperparah kondisi mereka.
Keberadaan owa kalimantan adalah cerminan dari kondisi hutan kita. Suara nyanyian mereka yang semakin lirih adalah pengingat bahwa ada kehidupan berharga yang bergantung pada kelestarian alam. Melindungi mereka berarti melindungi seluruh ekosistem hutan Borneo untuk generasi mendatang.
