Kapan Pernikahan Harus Dijaga atau Berakhir? Ini Penjelasan Psikolog
Jendela Magazine
– Terkadang, perjalanan dalam rumah tangga diuji dengan berbagai tantangan yang membuat seseorang mulai mempertanyakan apakah pernikahan tersebut sebaiknya dipertahankan atau justru dilepaskan?
Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa tidak ada ukuran pasti untuk menentukan apakah sebuah pernikahan layak dipertahankan atau diakhiri.
Tidak Selalu Buruk, Ini Dampak Perceraian pada Kesejahteraan Mental Menurut Psikolog
Bangkit Setelah Perceraian, Psikolog Bagikan 3 Tips untuk Pulih dan Kembali Bahagia
Menurut Winona, tidak ada tolak ukur yang pasti untuk menilai apakah hubungan layak dipertahankan atau justru sebaiknya bercerai. Hal ini kembali lagi ke dinamika pasangan masing-masing.
Kapan pernikahan sebaiknya dipertahankan atau diakhiri?
Ibarat rumah, pernikahan berdiri di atas sepuluh pilar
Winona menjelaskan bahwa hubungan pernikahan bisa diibaratkan seperti rumah yang berdiri kokoh di atas sepuluh pilar utama. Setiap pilar memiliki fungsi penting dalam menopang stabilitas hubungan.
“Silakan dicek dari sepuluh pilar tersebut, mana saja yang masih berdiri kuat, mana yang mulai retak, dan mana yang ternyata sudah hancur,” ujarnya.
Berikut adalah sepuluh pilar penting dalam pernikahan:
- Masalah kepribadian – kecocokan karakter dan gaya hidup antara pasangan.
- Komunikasi – seberapa terbuka, jujur, dan empatik pasangan dalam berinteraksi.
- Resolusi konflik – cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan.
- Masalah finansial – pengelolaan dan kesepakatan soal keuangan.
- Hobi dan kualitas diri – kemampuan menjaga waktu pribadi sekaligus waktu bersama.
- Hubungan seksual – kesepakatan dan keintiman fisik yang terjaga sehat.
- Gaya pengasuhan – kesamaan pandangan dalam mendidik anak.
- Budaya keluarga dan lingkungan – kemampuan beradaptasi dengan keluarga besar.
- Pembagian peran dalam rumah tangga – siapa yang bertanggung jawab atas apa.
- Nilai religius – bagaimana pasangan memaknai hubungan mereka dengan Tuhan.
Menilai kekuatan pilar dalam hubungan
Menurut Winona, sebelum memutuskan bertahan atau berpisah, pasangan perlu menilai kondisi pilar-pilar tersebut satu per satu.
“Coba bayangkan, rumah tangga itu layaknya sebuah rumah dengan sepuluh pilar penting. Dari sepuluh pilar itu, pertimbangkan mana yang masih baik dan tidak,” katanya.
Misalnya, jika dari sepuluh pilar itu ada dua yang mulai hancur, pasangan perlu mempertimbangkan apakah delapan pilar lainnya masih cukup kuat menjadi alasan keberlanjutan rumah tangga.
“Lalu amati, kalau dari sepuluh pilar, ada dua pilar yang hancur. Apakah delapan pilar lainnya masih bisa menopang keberlangsungan hubungan tersebut?” tambahnya.
Jika sebagian besar pilar masih kuat dan bisa diperbaiki, pernikahan tersebut layak diperjuangkan.
Akan tetapi, jika sebagian besar sudah runtuh dan menyebabkan ketidaknyamanan mendalam, mungkin jalan terbaik adalah berpisah dengan cara yang sehat.
4 Cara Mendukung Orang yang Sedang Hadapi Perceraian
Belajar dari Perceraian Raisa dan Hamish Daud, Psikolog Ingatkan Media Sosial Bukan Tolok Ukur Hubungan
Melepaskan bukan selalu bentuk kegagalan
Winona menekankan bahwa perceraian tidak selalu menandakan kegagalan dalam hidup. Keputusan untuk melepaskan bisa menjadi bentuk keberanian seseorang untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan dirinya.
“Melepaskan bukan berarti kegagalan, bisa jadi ini bentuk perjuangan kita untuk tetap mempertahankan kesehatan mental kita,” ujarnya.
Meskipun demikian, ia juga mengingatkan agar pasangan tidak terburu-buru mengambil keputusan berpisah.
Setiap pasangan perlu meninjau ulang dan menilai dengan jujur apakah hubungan tersebut masih bisa diperbaiki atau tidak.
“Meski begitu, jangan juga terburu-buru untuk langsung melepas. Kamu perlu menilik ulang, tinjau kembali, masih bisa diperbaiki atau tidak,” kata Winona.
Pernikahan bukan sekadar tentang bertahan, melainkan juga tentang bagaimana kedua pihak saling tumbuh dan memperkuat pilar yang menopangnya.
Dengan mengenali sepuluh pilar tersebut, setiap pasangan dapat lebih jernih menilai arah hubungan mereka, apakah masih bisa diperjuangkan, atau justru sudah saatnya dilepaskan demi kebaikan bersama.
