Psikologi Buka Rahasia 7 Kebiasaan Orang Sulit Dekat dengan Orang Lain



Jendela Magazine – Merasa sulit membangun kedekatan emosional dengan orang lain bukan berarti ada yang “rusak” dalam diri seseorang. Banyak orang tampak berfungsi dengan baik secara sosial, namun tetap merasa berjarak, kesepian, atau tidak benar-benar terhubung secara emosional. Dalam psikologi, kondisi ini sering bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan bersosialisasi, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan halus yang terbentuk sebagai mekanisme perlindungan diri.

Berikut tujuh kebiasaan yang sering dimiliki orang-orang yang kesulitan merasa dekat dengan orang lain—sering kali tanpa mereka sadari:

1. Menjaga percakapan tetap aman dan di permukaan

Sebagian orang terlihat komunikatif, namun sebenarnya selalu menghindari membuka perasaan. Mereka berbagi cerita, opini, atau humor, tetapi jarang menyentuh apa yang benar-benar mereka rasakan. Dalam psikologi, keterbukaan emosional (emotional self-disclosure) adalah fondasi kedekatan. Ketika seseorang hanya menyampaikan apa yang terjadi tanpa membagikan maknanya atau dampaknya bagi diri mereka, hubungan pun berhenti di level permukaan. Kedekatan mulai tumbuh saat fakta disertai pengalaman batin, misalnya dengan menambahkan satu kalimat sederhana tentang perasaan setelah menceritakan suatu kejadian.

2. Mengandalkan kemandirian secara berlebihan

Kemandirian sering dianggap sebagai tanda kedewasaan dan kekuatan. Namun, bagi sebagian orang, kebiasaan selalu “mengurus semuanya sendiri” sebenarnya adalah cara untuk menghindari kekecewaan. Masalahnya, kebiasaan ini bisa membuat seseorang terlihat kuat di luar, tetapi merasa kesepian di dalam. Kedekatan emosional berkembang ketika seseorang memberi ruang bagi orang lain untuk terlibat dan membantu, sekecil apa pun bentuknya.

3. Mudah menafsirkan situasi netral sebagai penolakan

Orang yang sulit merasa dekat sering kali terbiasa memindai tanda-tanda ancaman emosional. Pesan yang belum dibalas atau respons yang datar dengan mudah dianggap sebagai tanda tidak disukai atau ditolak. Psikologi menyebut ini sebagai pola interpretasi yang dipengaruhi luka relasional masa lalu. Kedekatan tidak menuntut seseorang berpikir positif berlebihan, tetapi menuntut kemampuan membedakan fakta dari asumsi.

4. Menggunakan humor, kesibukan, atau kompetensi untuk menghindari kerentanan

Humor, kesibukan, dan kemampuan menyelesaikan masalah sering kali dihargai secara sosial. Namun, bagi sebagian orang, ketiganya menjadi “jalan keluar” untuk menghindari percakapan yang terlalu emosional. Alih-alih membuka diri, seseorang mungkin bercanda, memberi solusi cepat, atau menjaga jadwal tetap padat agar tidak terlalu dekat secara emosional. Akibatnya, orang lain mengenal mereka sebagai pribadi yang menyenangkan, tetapi tidak benar-benar mengenal isi hatinya.

5. Menguji orang lain atau diam-diam “menghitung” usaha

Ketika kedekatan terasa berisiko, seseorang bisa tanpa sadar menunggu orang lain membuktikan kepeduliannya. Mereka menilai, mencatat, dan membandingkan, alih-alih menyampaikan kebutuhan secara terbuka. Masalahnya, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka sedang diuji. Jarak pun terbentuk, dan ini justru menguatkan keyakinan bahwa orang lain tidak bisa diandalkan.

6. Mengecilkan kebutuhan dan perasaan sendiri

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhan emosional mereka terlalu berlebihan. Akibatnya, mereka belajar meremehkan perasaan sendiri agar tidak merepotkan orang lain. Namun, kedekatan tidak bisa tumbuh dari penghapusan diri. Ketika kebutuhan tidak pernah diungkapkan, hubungan kehilangan bahan mentah yang dibutuhkan untuk menjadi intim dan bermakna.

7. Menarik diri saat hubungan mulai terasa nyaman

Ironisnya, sebagian orang justru mundur ketika hubungan mulai stabil dan menyenangkan. Mereka menjadi lebih kritis, fokus pada kekurangan kecil, atau merasa tiba-tiba membutuhkan jarak. Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan ketakutan lama yang terpicu oleh kedekatan—takut kehilangan, takut disakiti, atau takut kehilangan kendali. Menyadari momen ketika dorongan untuk menjauh muncul adalah langkah awal untuk memutus pola ini.