Khutbah Idulfitri Imam Addaruqutni: Refleksi Sosial dan Persatuan

Perbedaan Penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia

Pelaksanaan Salat Idul Fitri tahun ini kembali menunjukkan perbedaan dalam penetapan hari raya di berbagai wilayah Indonesia. Di Kota Tangerang Selatan, suasana khidmat terasa sejak pagi ketika ratusan jemaah memadati kawasan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Mengikuti keputusan PP Muhammadiyah, jemaah melaksanakan salat Idul Fitri lebih awal, yaitu pada Jumat (20/3/2026). Kegiatan tersebut dipusatkan di Plaza kampus yang terletak di Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Khatib Idul Fitri, Imam Addaruqutni, menilai kondisi tersebut merupakan hal yang sudah lazim terjadi setiap tahun. Ia menyampaikan bahwa perbedaan waktu perayaan Idul Fitri tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain di dunia.

Menurutnya, situasi ini seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan di tengah umat. “Saya kira pelaksanaan ini sudah tiap tahun, ya. Soal hari pun tahun ini juga termasuk selisih hari dengan keputusan pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan perbedaan tersebut juga terlihat di sejumlah negara seperti di kawasan Timur Tengah, Australia, hingga Amerika. “Di dunia, di Timur Tengah juga hari ini. Kemudian Australia juga hari ini, juga di negara-negara di Amerika juga hari ini juga. Selisih sehari karena itu,” jelasnya.

Meski terdapat perbedaan, Cendikiawan Muslim itu menegaskan secara umum umat Islam tetap memiliki kesatuan yang kuat. Ia berharap momentum Idul Fitri dapat semakin mempererat persaudaraan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia Islam.

“Tapi secara umum umat Islam saya kira telah ada satu kesatuan yang baik lah dunia Islam,” katanya.

Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema pentingnya refleksi sosial sebagai kelanjutan dari ibadah Ramadan. Menurutnya, nilai-nilai Ramadan harus diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.

“Ya, ini Ramadan harus menuntut refleksi sosial nyata. Jadi refleksi sosial itu ada getaran-getaran sosial nyata,” ungkapnya.

Ia mencontohkan salah satu bentuk refleksi sosial tersebut adalah melalui zakat dan kepedulian terhadap fakir miskin. Hal ini menjadi penting mengingat masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

“Apakah soal misalnya zakat, itu untuk perhatian kepada fakir miskin. Kita memiliki masyarakat yang meskipun ada tingkat kemakmuran, masyarakat miskin kita masih banyak,” tuturnya.

Menurutnya, persoalan kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen umat Islam. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama berkontribusi dalam mengatasi persoalan tersebut.

“Ini saya kira tanggung jawab negara juga sebagaimana tanggung jawab umat Islam juga begitu,” tambahnya.

Terkait perbedaan hari raya, ia menilai masyarakat Indonesia sudah cukup dewasa dalam menyikapinya. Perbedaan tersebut tidak lagi memicu konflik seperti di masa lalu.

“Saya kira karena sudah biasa untuk Indonesia dan itu sudah maklum, saya kira tidak ada lagi semacam gontok-gontokan,” ujarnya.

Pria berumur 66 tahun itu menekankan pentingnya menjaga toleransi dan harmonisasi, baik di antara sesama umat Islam maupun antarumat beragama. Menurutnya, Idulfitri justru menjadi momentum memperkuat persatuan.

“Dalam soal Idulfitri, saya kira lebih hebat lagi kita gak masalah,” katanya.

Pada kesempatan ini, ia mengajak umat Islam untuk terus menjaga kerukunan dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. Ia menegaskan bahwa persatuan harus selalu diutamakan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Perbedaan apapun saya kira tidak ada satu celah perpecahan melainkan celah persatuan yang ada itu,” pungkasnya.