Buffon Mundur Usai Gagal Bawa Italia ke Piala Dunia 2026
Revolusi besar di tim nasional Italia telah dimulai dengan pengunduran diri Gabriele Gravina dari jabatan Presiden FIGC dan Ketua Delegasi. Keputusan ini diambil setelah rapat darurat yang diadakan di markas Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) di Roma, pada Kamis (2/4/2026). Pengunduran diri ini terjadi setelah tekanan berat yang dialami oleh Gravina pasca-kegagalan timnas Italia dalam beberapa turnamen besar.
Gli Azzurri gagal melaju ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia-Herzegovina dalam final play-off Zona Eropa di Zenica, Selasa (31/3/2026). Kegagalan ini menjadi aib besar bagi Negeri Piza, karena ini adalah kali ketiga secara beruntun mereka gagal tampil di ajang paling bergengsi dunia FIFA.
Gravina mengumumkan pengunduran dirinya kepada sejumlah tokoh penting dalam sepak bola Italia, termasuk Presiden Lega Serie A Ezio Maria Simonelli, Presiden Serie B Paolo Bedin, dan lainnya. Dalam rilis resmi, ia menyatakan bahwa Sidang Pemilihan Luar Biasa FIGC akan diadakan pada 22 Juni di Roma.
Di bawah kepemimpinan Gravina sejak 2018, timnas Italia sukses memenangkan Euro 2020. Namun, dua kegagalan dalam melaju ke Piala Dunia 2022 dan 2026 cukup untuk menghilangkan kesuksesan tersebut. Mundurnya Gravina juga mengikuti langkah pendahulunya, Carlo Tavecchio, yang meninggalkan kursi Presiden FIGC pada 20 November 2017, tujuh hari setelah Gli Azzurri dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2018.
Ketua Delegasi FIGC, Gianluigi Buffon, juga mengikuti langkah Gravina dengan mengundurkan diri. Melalui akun Instagram, eks kiper ikonis Juventus itu merilis pernyataan mundur tak lama setelah pertandingan melawan Bosnia berakhir. Ia menyampaikan bahwa pengunduran dirinya muncul dari lubuk hati yang paling dalam, serta tindakan spontan yang dilakukan setelah rasa sakit dan air mata yang dirasakan oleh banyak orang.
Buffon menyatakan bahwa ia memilih menunggu sebentar agar semua orang bisa merenung dengan baik. Setelah Gravina mundur, ia merasa bebas melakukan tindakan yang bertanggung jawab. Meskipun ia percaya bahwa tim yang dibangun bersama Rino Gattuso dan staf sangat kuat, tujuan utama tetap harus membawa Italia kembali ke Piala Dunia, yang belum tercapai.
Ia menyatakan bahwa sudah waktunya menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang lebih tepat. Mewakili tim nasional adalah sesuatu yang istimewa baginya sejak kecil. Ia berusaha memenuhi tugas dengan seluruh energi yang dimiliki, sebagai jembatan antara tim muda dan pelatih guna merancang proyek yang dimulai dari pemain termuda hingga tim nasional U-21.
Beberapa kandidat dijagokan untuk mengisi kursi panas yang ditinggalkan oleh Gravina. Di antaranya adalah Giovanni Malago, Abete, dan Marani. Malago kini menjabat Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI), sedangkan Abete memimpin Liga Amatir Italia dan Marani mempresideni Lega Pro. Selain itu, Gianni Rivera, legenda top Azzurri dan AC Milan, juga menyatakan kesiapannya jika dipercaya memimpin federasi.
Menurut Rivera, keputusan Gravina tepat dan telah dipikirkan matang sebelum diambil. Ia mengatakan bahwa pengunduran dirinya membuka jalan bagi perubahan arah baru dalam rencana federasi. Ia juga menyatakan siap mencalonkan diri jika diberi kesempatan, karena memiliki program spesifik yang telah disusun bersama teman-temannya.
