Waspadai Perang Dunia III, Investasi Ini Paling Aman



Jendela Magazine, JAKARTA — Diversifikasi portofolio investasi menjadi salah satu strategi penting yang perlu diperhatikan oleh para investor dalam menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi global. Hal ini disampaikan oleh Mike Rini Sutikno, seorang perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi. Menurutnya, dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, investor tidak boleh hanya mengandalkan satu jenis instrumen investasi.

Strategi Diversifikasi Investasi

Diversifikasi diperlukan untuk memastikan risiko dapat tersebar dan dampak gejolak pasar tidak langsung menggerus seluruh aset. Mike menjelaskan bahwa dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan potensi konflik global, diversifikasi menjadi kunci utama.

Instrumen pertama yang dapat dipertimbangkan adalah obligasi, khususnya obligasi pemerintah Indonesia seperti Surat Utang Negara (SUN) maupun sukuk. Secara historis, kedua instrumen ini relatif aman karena dijamin oleh pemerintah. Selain memberikan rasa tenang bagi investor, obligasi pemerintah juga menawarkan pendapatan pasif berbasis pendapatan tetap. Modal investasinya pun tidak berkurang, jadi lebih aman dan tetap bisa bertumbuh.

Emas sebagai Aset Lindung Nilai

Instrumen kedua yang relevan dalam situasi ini adalah emas. Mike menjelaskan bahwa dalam 20 tahun terakhir, bahkan dalam 10 hingga 1 tahun terakhir, emas menunjukkan kecenderungan menguat saat terjadi ketegangan geopolitik. Pola historis tersebut berulang, di mana emas kerap menjadi aset lindung nilai ketika ketidakpastian politik dan ekonomi meningkat.

Dalam kondisi ekonomi normal, harga emas cenderung tumbuh seiring inflasi. Namun, ketika terjadi ketegangan geopolitik, lonjakan harga emas biasanya lebih signifikan. Meski demikian, Mike mengingatkan agar porsi emas dalam portofolio tetap dibatasi. Ia menyarankan, 10—15 persen dari total portofolio itu emas sudah cukup. Jika terlalu banyak konsentrasi di emas, itu bukan diversifikasi, malah berisiko.

Dia menekankan bahwa emas merupakan instrumen jangka panjang. Dari sisi likuiditas, emas tidak ideal untuk tujuan jangka pendek karena adanya selisih harga beli dan jual. Jika dijual dalam waktu singkat, keuntungannya belum tentu optimal.

Dana Darurat dan Instrumen Pasar Uang

Selain instrumen investasi, Mike juga menyoroti pentingnya memiliki dana darurat. Idealnya, dana darurat disiapkan sebesar enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan dan ditempatkan pada instrumen yang aman dan likuid, seperti tabungan atau deposito. Fungsinya murni sebagai penyangga ketika terjadi kondisi tak terduga.

Sebagai alternatif, investor juga dapat mempertimbangkan instrumen pasar uang, seperti reksa dana pasar uang. Menurut dia, instrumen ini dapat menjadi bagian dari portofolio karena menawarkan imbal hasil di atas deposito dengan tingkat likuiditas yang lebih tinggi dibandingkan obligasi yang memiliki jatuh tempo.

Saham Sektor Defensif

Untuk instrumen saham, Mike menyarankan agar investor memilih sektor defensif, seperti ritel kebutuhan sehari-hari, barang konsumsi, dan industri kesehatan. Sektor defensif ini menunjukkan kinerja yang lebih stabil dalam berbagai situasi ekonomi.

Dia menambahkan, saham defensif dapat dikombinasikan dalam portofolio untuk tujuan pertumbuhan jangka panjang di atas lima hingga 10 tahun. “Jadi, jangan panic selling atau fomo buying,” imbuhnya.

Pentingnya Disiplin dan Konsistensi

Lebih lanjut, Mike menekankan bahwa investor yang berhasil adalah mereka yang disiplin dan konsisten pada rencana yang telah disusun. Portofolio investasi harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing, dengan mempertimbangkan usia, tujuan investasi, jangka waktu, kemampuan finansial, serta risiko pasar seperti suku bunga dan isu politik.

“Selalu pantau portofolio dan sesuaikan dengan kondisi market terbaru, tapi jangan sampai panik,” saran Mike.